You Are Here: Home » Page »

 
Loading Events

« All Events

  • This event has passed.

Seminar Terbatas: “Membangun Dukungan Keluarga Bagi Kelompok LGBT”

15 May 2015 @ 00:30 - 15:30

Ilustrasi: www.mathematica-mpr.com

Ilustrasi: www.mathematica-mpr.com

Seminar Terbatas: “Membangun Dukungan Keluarga Bagi Kelompok LGBT”

Pengantar

Banyak sekali studi yang menerangkan mengenai keterhubungan aspek psikologis dan mental pada individu yang mengalami penyakit kanker atau HIV/AIDS terhadap pola dukungan yang terbentuk dari keluarga dan orang-orang terdekat. Caitlin Ryan dalam tulisannya yang berjudul “Helping Families Support Their Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) Children” (2009)1 juga menguatkan bahwa penerimaan keluarga itu penting bagi LGBT. Karna banyak dari mereka yang lari dari rumah, kehilangan pekerjaan, tidak lulus sekolah, atau bahkan melakukan bunuh diri karena putus asa dan tidak mendapatkan penerimaan dari keluarga.

Di Indonesia kita belum mengenal yang disebut pusat gender dimana orangtua atau keluarga dapat memperoleh informasi yang layak dan tepat mengenai SOGIE (Sexual Orientation, Gender Identity, and Expression). Sehingga banyak dari keluarga yang pada akhirnya mengabaikan keberadaan si anak, bahkan cenderung melakukan pendekatan relijius yang tidak tepat, karna adanya anggapan bahwa menjadi bagian dari LGBT merusak moral, aib, dan dosa. Apalagi jika hal ini diintervensi oleh Psikolog maupun Psikiater yang secara keilmuwan menafikan keberadaan LGBT, sehingga bukan membuat sang anak menjadi lebih baik, melainkan justru menjadi lebih depresi dan putus asa.

Sejatinya keluarga memang merupakan media awal dari suatu proses sosialisasi, dimana didalamnya ada proses belajar dan bertingkah laku yang diakomodasi secara lebih intim dan hangat. Sehingga keluarga idealnya diciptakan sebagai pondasi yang aman ketika diperhadapkan pada sebuah persoalan, termasuk ketika mengangkat isu gender dan seksualitas anak dalam keluarga. Kenyataan yang cenderung terjadi di Indonesia ialah ketika keluarga masih belum cukup siap menerima keberagaman gender dan seksualitas yang dialami oleh sang anak. Keadaan ini diperparah lagi ketika seorang anak merasa terbebani untuk pertama kali mengungkapkan identitas gender maupun orientasi seksualnya kepada keluarga. Jadi tidak sedikit kita melihat ketika orang lain lebih dulu tahu tentang seseorang sebagai gay atau lesbian dibandingkan orangtuanya.

Secara umum figur keluarga cenderung dihindari, bahkan menjadi figur yang belakangan tahu tentang orientasi seksual/identitas gender anaknya, karena adanya ketakutan atas penolakan yang berdampak besar dalam harmoni yang dibangun dalam keluarga. Pada beberapa kasus penolakan dari keluarga tidak sedikit yang melakukan kekerasan fisik dan mental seperti pemukulan dan pengusiran. Penerimaan keluarga terhadap LGBT di Indonesia masih menjadi sebuah determinasi yang langka untuk diketahui. Dan perbedaan pengalaman pada tiap orang dalam memahami LGBT menjadi penting kiranya ketika keluarga ditempatkan sebagai pondasi strategis dalam pemenuhan hak-hak, perlindungan yang manusiawi, dan kesetaraan gender terhadap LGBT. Berbagai penelitian di Amerika dan Eropa mengungkapkan bahwa keterlibatan keluarga dalam gerakan LGBT memegang peran penting dan efektif bagi sebuah perubahan kebijakan.

Meskipun sistem kekerabatan parental dipengaruhi oleh ragam budaya di Indonesia, akan tetapi pendekatan isu-isu sosial yang berbasis keluarga masih cenderung kurang optimal. Adapun Rumah Cemara di Bandung merupakan salah satu contoh pelopor dalam melakukan pendekatan keluarga terhadap penanganan HIV/AIDS, dimana tiap keluarga dari individu yang terjangkit HIV/AIDS dan NARKOBA diwadahi dalam sebuah pertemuan rutin terarah sebagai bentuk penguatan sosial dan terapi kelompok. Sedangkan isu-isu LGBT yang berkembang saat ini baik secara formal maupun informal belum ada yang melakukan penguatan kelompok berbasis keluarga tersebut. Padahal jika ditelaah keberadaan keluarga inti dan kerabat dekat yang memberi dukungan positif terhadap LGBT itu sebenarnya ada. Akan tetapi, kesempatan untuk mendudukan persoalan isu LGBT secara bersama-sama dari tiap keluarga itu masih menjadi pekerjaan rumah bersama dan butuh dikembangkan.

Oleh karena itu dalam rangka IDAHOT (Hari Melawan Homophobia dan Transphobia), Suara Kita bekerjasama dengan Freedom Institute akan mendiskusikan tema “Membangun Dukungan Keluarga Bagi Kelompok LGBT di Indonesia”

Pembicara:

1).Hastaning Sakti ( Psikolog Universitas Diponogoro UNDIP Semarang )
2).Orangtua Yang Menerima Anak LGBT
3).Kelompok dukungan keluarga dari Rumah Cemara

Kegiatan seminar ini diadakan terbatas. Bagi kawan-kawan yang ingin hadir dalam kegiatan ini harap mendaftarkan diri pada panitia di:

Alamat email : jane_ramadhani@yahoo.com
Nomer telpon: 0813 1646 7222

Kegiatan ini merupakan kegiatan kerjasama antara Suara Kita dan Freedom Institute.

1Ryan, C. Supportive families, healthy children: Helping families with lesbian, gay, bisexual & transgender children. San Francisco, CA: Marian Wright Edelman Institute, San Francisco State University, 2009.

 

Details

Date:
15 May 2015
Time:
00:30 - 15:30
Event Tags:
, ,

Organizer

Jane Maryam
Phone:
081316467222

Venue

Unnamed Venue
Jakarta, Indonesia + Google Map